Rabu, 18 Februari 2015

Waspada, 7 Gejala ini Menandakan Kamu Butuh Traveling

Prameswari Mahendrati 




photo by  anna gutermuth
photo by anna gutermuth
“Bekerja di ibu kota tak mudah, begitu kejam dan penuh tekanan”, salah satu keluhan dari segelintir teman yang mengadu nasib di Jakarta. Tak bisa disalahkan, memang begitulah keadaan hidup di kota metropolitan, kota sejuta masalah, namun tak menutup kemungkinan pula hidup di luar Jakarta menjamin kenyamanan dalam bekerja.
Bekerja itu harus, tapi apa yang dikerjakan itu adalah pilihan
Seketika teringat dengan ucapan seorang tokoh idola saya, Ridwan Kamil, Walikota Bandung, “Pekerjaan yang asik itu adalah hobi yang dibayar”. Entahlah, satu kalimat itu berhasil membangkitkan idealisme saya.
“Ah itu sih cuma teori, realitasnya gak semua orang bisa kerja berdasarkan hobi, tuntutan kebutuhan mendesak supaya kita bekerja di tempat yang pasti-pasti saja, PNS misalnya, atau tergantung perusahaan mana yang menerima kita terlebih dahulu”. Selalu ada pendapat yang terbantahkan. Bekerja, bekerja, dan bekerja itulah yang sekarang ada dipikiran beberapa teman yang dulu adalah partner traveling saya.
Bekerja di kota metropolitan sepertinya telah berhasil mengubah karakter sebagian orang. Tekanan, deadline, dan target menjadi teman akrab sehari-hari. Traveling pun seakan-akan menjadi barang mewah bagi si pekerja keras. Keinginan untuk terus bekerja belum tentu sejalan dengan tubuh yang membutuhkan refreshing.
Berikut gejala-gelaja bahwa kamu membutuhkan waktu untuk traveling dan lepas dari pekerjaan;

1. Intensitas Tertawa dalam Sehari dapat Dihitung dengan Jari

Pikiran dan konsentrasi lebih memforsir tenaga dibandingkan dengan bekerja dengan otot, itulah sebabnya bekerja di depan laptop membuat saya lebih cepat lelah ketimbang jogging 5 putaran. Tekanan seseorang berbanding lurus dengan ekspresi yang ditunjukan, paling tidak begitulah yang saya alami sehari-hari.
Melihat beberapa foto lama bersama teman-teman sewaktu masa kuliah, senyum lebar dan ekspresif, rasanya akan jelas berbeda jika dibandingkan dengan masa kini, senyum hampir dilakukan hanya jika dibutuhkan.

2. Mulai Lupa Kapan Terakhir Kali Mengunjungi Suatu Tempat

Pekerjaan membuat pikiran dan tenaga terfokuskan pada satu titik, yaitu target. Duduk di meja kerja, melihat-lihat buku catatn di dalam laci. Hanya tabel dan bagan yang terlihat. Tak ada lagi coretan-coretan berantakan tentang petualangan di suatu destinasi.
Hanya angka dan analisisnya yang diingat minggu ini, bahkan bulan lalu, namun belum tentu kamu mengingat destinasi mana atau terakhir kali yang kamu kunjungi bersama travelmatemu.

3. Kamu Tak Dapat Menikmati Pemandangan Sepele di Sekitarmu

Terbangun di tengah malam dan terjaga hingga pagi hari bukan untuk menikmati angin malam atau mengejar surrise, tapi hanya untuk memandang tumpukan kertas dan buku agenda yang diterangi oleh lampu di meja kerja.
Jangankan memikirkan untuk menjamah destinasi dengan spot sunrise terindah, memandang 5 menit ke jendela pun tak terpikirkan.

4. Temperamen Adalah Karakter Baru

Macet selama dua jam, suara klakson di mana-mana, tak jarang beberapa pengendara membuka jendela kendaraan sembari berteriak dengan wajah tertekuk. Beban deadline dan target, serta ketidaknyamanan selama perjalanan pulang tak menutup kemungkinan mempengaruhi emosi.
Jangankan mengajak berbincang, sekedar menyapa bagi seorang yang sedang mengalami stres berat pun adalah hal yang tidak tepat untuk dilakukan.

5. Gadget Tak Berjarak Jauh dari Tubuhmu

Duduk bersantai sambil membaca koran, menikmati kopi hitam dengan sedikit gula, dan berbincang-bincang, bisa menjadi kegiatan langka bagi si pekerja keras, namun sangat menyebalkan bila apa yang saya bicarakan tak ditanggapi secara serius oleh lawan bicara.
Kurang dari dua bulan tak bertemu dengan salah seorang kerabat rupanya sikap dan etika berbeda sudah terasa semenjak ia meniti karir sebagai sekretaris kontraktor. Berbincang dua arah, tetapi sibuk dengan gadget pribadi, setiap 5 menit menerima telvon, tentu tak ada lawan bicara yang nyaman dengan keadaan seperti itu.

6. Akhir Pekan Hanyalah Sebuah Status

Kadang kala saya pun merengek meminta perhatian lebih kepada ayah saya. Berangkat pagi dan pulang larut malam membuat berkurangnya quality time bersama keluarga. Bahkan ketika akhir pekan tiba, pekerjaan masih menjadi sahabat yang tak bisa dilepaskan.

7. Satu-satunya Olah Raga yang Dilakukan Adalah Berjalan dari Meja ke Toilet

Jangankan melakukan jogging di pagi hari, sekedar bersantai dan membaca buku favorit saja tidak sempat. Meja kerja menjadi tempat paling nyaman untuk disinggahi. Toilet yang jaraknya tak sampai 300 meter pun menjadi olah raga untuk merenggangkan otot saking sibuknya dengan apa yang dikerjakan.
Tak ada salahnya mengambil cuti dan melupakan pekerjaan dua hingga tiga hari untuk sekedar mengunjungi destinasi-destinasi terdekat. Abaikan semua dering telepon dan tinggalkan laptop di rumah karena tubuh dan pikiranmu juga membutuhkan celah untuk menghirup udara segar puncak Gunung Merbabu, menghangatkan tubuh dan bermain pasir di Pantai Indrayanti, atau berkunjung ke dunia bawah laut di Wakatobi.
Apalah arti sebuah kerja keras jika kamu sendiri tak dapat menikmati hidup. Percayalah kawan, alam pun akan merindukanmu untuk menjamahnya.

Senin, 16 Februari 2015

Ini Alasan Kenapa Pendaki Gunung Adalah Pacar Idaman


Percaya nggak percaya pendaki gunung ternyata punya kualitas oke sebagai calon pendamping loh.
Mereka yang gemar melangkahkan kaki untuk menggapai puncak-puncak tertinggi, mereka yang tidak keberatan membawa keril berisi bahan makanan dan peralatan berkemah, mereka yang rela menghabiskan waktu berhari-hari di dalam hutan demi bisa mengalahkan diri sendiri. Penasaran kan kenapa kamu harus mempertimbangkan dia yang gemar mendaki gunung untuk menjadi calon pasangan?

1. Dia Terbiasa Menetapkan Target

Dia tahu apa tujuan akhirnya
Dia tahu apa tujuan akhirnya via ase7adventure.files.wordpress.com
Orang yang sukses adalah mereka yang berani menetapkan target dan mematuhinya. Ya iya juga sih, apa gunanya target tinggi tapi gak ada usaha untuk menjangkaunya? Pendaki gunung sudah akrab dengan kebiasaan yang satu ini. Mereka terbiasa menetapkan tujuan akhir yang harus dicapai dalam setiap pendakian.
Sebelum pendakian dimulai, dia akan memperhitungkan waktu dan tenaga yang dimiliki kemudian menyesuaikannya dengan rute yang akan dihadapi. Dia bisa dengan tepat menetapkan target sesuai sumber daya. Kemampuan ini oke banget jika diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kamu gak perlu khawatir punya pacar selo yang gak punya target dalam hidup kalau pacaran sama pendaki gunung.


2. Punya Semangat Untuk Mengalahkan Diri Sendiri

Batasan diri sendiri selalu bisa dikalahkan
Batasan diri sendiri selalu bisa dikalahkan via imajimaya.files.wordpress.com
Musuh terbesar seseorang sebenarnya bukan orang lain atau lingkungan di sekitarnya, melainkan dirinya sendiri. Inilah filosofi yang dipegang oleh kebanyakan pendaki gunung. Kegiatan mendaki dipahami sebagai proses mengalahkan batas diri sendiri. Menantang diri untuk mengalahkan rasa letih demi menjejakkan kaki di puncak.
Pasanganmu yang gemar mendaki gunung tahu bahwa tujuan akhirnya gak akan bisa dicapai jika dia tidak keras pada dirinya sendiri. Dalam kepalanya akan bergaung suara, “Ayo jalan 5 langkah lagi!” setiap kakinya hendak mogok minta berhenti. Dia gak mau dikalahkan oleh rasa capek, malas, lapar ataupun dingin. Dia bisa mengontrol dirinya untuk terus berjuang mengalahkan semua keengganan yang muncul dari beratnya proses pendakian.


3. Dia Pasti Rendah Hati

Pendaki yang baik tidak pernah merasa dirinya lebih hebat dari orang lain. Walaupun dia sudah pernah menjejakkan kaki di berbagai tanah tertinggi, dia gak akan merasa lebih baik dari mereka yang belum. Pendakian justru menyadarkan bahwa di tengah ganasnya alam, manusia itu nggak ada apa-apanya.
Walau bisa menaklukkan puncak tertinggi, tetap rendah hai
Walau bisa menaklukkan puncak tertinggi, tetap rendah hai via 1.bp.blogspot.com
Jika kamu memutuskan untuk menjalin hubungan cinta dengan seorang pendaki gunung, jangan kaget bila dia sering mengingatkanmu agar jangan merasa punya kemampuan diatas orang lain. Nggak heran sih, kebijaksanaan ini memang dia dapatkan dari semua pendakian yang pernah dilalui.
Dia sudah pernah menemui pendaki berusia lanjut yang segar bugar, dia pernah merasakan hampir mati karena hipotermia, dia juga pernah tersesat dan hanya mengandalkan insting untuk menemukan jalur yang benar. Di depan alam ciptaan Tuhan, dia sadar bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa.


4. Jiwa Berjuangnya Nggak Diragukan Lagi

Selalu mau berjuang
Selalu mau berjuang via 2.bp.blogspot.com
Apakah kamu cewek yang mengharapkan calon pasangan yang super tangguh? Atau kamu cowok yang paling males kalau dapat cewek manja? Jika memang semangat juang adalah hal yang wajib ada dalam diri calon pasanganmu, maka mengencani pendaki gunung adalah pilihan yang tepat.
Dia adalah orang yang bisa bertahan dalam situasi sulit. Rasa ingin berjuang dalam dirinya sudah tidak diragukan lagi. Pasanganmu sudah pernah merasakan telapak kakinya lecet dan sakit untuk berjalan karena rute turun yang terlalu curam. Tapi dia memaksa dirinya untuk terus berjalan. Dia sadar bahwa pilihannya hanya terus berjuang atau menunggu diselamatkan tim SAR.


5. Dia Mudah Bergaul Dengan Siapapun

Mudah bergaul dengan orang baru
Mudah bergaul dengan orang baru via s1200.photobucket.com
Pendaki gunung biasanya punya teman yang datang dari berbagai latar belakang. Selain solidaritas antar pendaki memang kuat, siapapun yang ditemui selama pendakian adalah kawan seperjuangan di alam raya. Gak jarang hubungan ini akan terus berlanjut sampai ke kehidupan normal pasca pendakian.
Kalau dia bisa langsung nyambung dengan orang yang baru ditemuinya dalam Jeep carteran menuju Ranu Pane, tentu dia gak akan kesulitan saat harus membuka percakapan dengan teman dan keluargamu. Sering mengakrabi alam membuat dia mudah bergaul dan terbuka terhadap setiap peluang untuk menjalin hubungan dengan orang baru.


6. Bisa Diandalkan

Pasangan yang bisa diandalkan adalah dia yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Dia udah gak lagi galau hidupnya mau dibawa kemana, dia sudah tahu apa yang benar-benar ingin dia lakukan dalam hidupnya. Proses mendaki gunung memberikan seseorang kesempatan untuk berdialog dengan dirinya sendiri dan menyelesaikan ganjalan dalam hati.
Mendaki membuat dia selesai menemukan diri sendiri
Mendaki membuat dia selesai menemukan diri sendiri via 4.bp.blogspot.com
Ditengah beringasnya 7 Bukit Penyesalan Gunung Rinjani, dia akan mengalami monolog dengan sisi paling jujur dalam dirinya. Sambil menahan lelah dan teriknya sengatan matahari, dia akan paham bahwa  hidup harus benar-benar diperjuangkan sesuai impian. Gak ada hidup yang pantas dijalani dengan kepuasan setengah hati.
Kamu gak perlu lagi takut kehilangan dia ditengah perjalanan, atau tiba-tiba harus banting setir 180 derajat. Dia sudah menetapkan rute yang ingin ditempuh. Bahkan jauh sebelum bertemu kamu.


7. Punya Idealisme yang Kuat

Idealismenya nggak main-main
Idealismenya nggak main-main via indrasuharto.files.wordpress.com
Idealisme, adalah kemewahan yang kerap diagungkan oleh para pendaki gunung. Hidup susah nggak masalah, asal bisa hidup dengan kepala tegak. Biasa mengakrabi ganasnya alam membuat mereka ingin menjadi sebaik-baik manusia. Mereka akan ogah ikut dalam aksi kotor demi keuntungan pribadi. Pendakian mengajarkan bahwa hidup dan mati itu jaraknya setipis seutas tali.
Memiliki pasangan seorang pendaki akan memberikanmu hidup yang sederhana, tapi penuh arti. Mereka yang belajar di alam akan menyadari bahwa jadi manusia berguna itu lebih penting daripada menumpuk harta bagi diri sendiri. Karena pada akhirnya, kamu cuma punya integritas yang bisa dibawa sampai mati.


8. Kemampuan Kalkulasinya Pasti Oke

Bisa memperhitungkan tenaga dan waktu dengan baik
Bisa memperhitungkan tenaga dan waktu dengan baik via 3.bp.blogspot.com
Suka sebel sama pasangan yang gak bisa mengatur jadwalnya sendiri? Atau kamu paling anti sama orang yang gak bisa mengatur pengeluarannya? Sama pendaki gunung, hal-hal menyebalkan yang berkaitan dengan masalah kalkulasi akan jarang kamu temui. Kegemarannya mendaki membuat dia ahli dalam membuat estimasi.
Dalam sebuah pendakian — terutama pendakian dalam tim, dia akan berhitung dengan cermat soal waktu untuk menyelesaikan tiap etape. Juga soal besarnya biaya yang harus dibayar tiap anggota tim untuk belanja logistik. Selain punya semangat juang yang tinggi, dia juga ahli dalam merencanakan sesuatu. Kualitas persiapan dan aksinya seimbang. nah loh, kurang apa lagi?


9. Luwes Tapi Efektif

Mempertimbangkan kondisi alam sebelum mendaki
Mempertimbangkan kondisi alam sebelum mendaki via lumajangsatu.com
Pendaki gunung adalah orang yang terbiasa dengan perubahan. Dia bisa dengan cepat menyesuaikan diri saat ada perubahan cuaca yang membuat perjalanan terhenti. Walau mengeluarkan kerangka tenda dan mendirikan tenda itu ribet, tapi dia gak akan mengeluh saat terpaksa harus nge-camp karena cuaca buruk.
Dia adalah pribadi yang fleksibel namun di lain sisi juga sangat efektif dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Walau harus mengubah ritme perjalanan, bukan berarti waktu pendakian molor. Dia harus tetap memperhitungkan kondisi logistik yang kian menipis. Kualitas macam ini nggak dimiliki oleh semua orang. Dan biasanya, mereka yang bisa dengan luwes membawa diri namun tetap efektif bekerja adalah mereka yang bisa sukses.


10. Tidak Mudah Terjebak Kenyamanan

Selalu ingin memperluas batas kenyamanan
Selalu ingin memperluas batas kenyamanan via 1.bp.blogspot.com
Ketika sudah mendapat posisi yang mapan, apa yang biasa dilakukan oleh orang kebanyakan? Menikmati dan berleha-leha, bukan? Masuk kerja- pulang sore – menunggu macet di mall – membelanjakan uang di cafe yang chic - berharap akhir pekan datang – kembali menyambangi mall di akhir pekan. Apa iya kamu mau hidupmu berakhir seperti itu?
Menjalani hubungan cinta dengan pendaki gunung akan membuatmu belajar untuk terus memperluas batas kenyamanan. Pendakian mengajarkan mereka bahwa pelajaran selalu didapat justru dari usaha mengalahkan kesulitan. Mereka akan menantangmu untuk mengalahkan batas kemampuanmu sendiri. Tanpa kamu sadari, perlahan kamu juga akan belajar bahwa kenyamanan adalah jebakan yang harus dikalahkan kalau tidak mau jadi pribadi yang tertinggal.


11. Bisa Menerimamu Apa Adanya

Bisa menerima berbagai karakter anehmu
Bisa menerima berbagai karakter anehmu via julynovita.wordpress.com
Mendaki mempertemukan dia dengan banyak tipe orang dari berbagai latar belakang. Mulai dari yang kepribadiannya hangat dan oke banget, sampai yang punya kelakuan unik dan butuh perlakuan khusus. Apalagi diatas gunung konon seseorang akan benar-benar terlihat kepribadian aslinya. Demi lancarnya perjalanan, dia akan berusaha menyesuaikan diri dengan karakter orang-orang tersebut.
Sebenarnya pacaran itu gak ubahnya sebuah pendakian. Demi bisa sukses, kamu harus pintar-pintar mengatur langkah agar sesuai dengan ritme teman seperjalanan. Bersama pasangan yang kerap mendaki gunung, kamu gak perlu khawatir dia ilfeel karena kelakuan anehmu. Kamu bisa dengan bebas menunjukkan dirimu yang sesungguhnya. Dia bisa memahami bahwa semua orang lahir dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing.


12. Biasanya, Mereka Romantis

Gahar tapi romantis
Gahar tapi romantis via lukihermanto.com
Walau tampangnya gahar, kulitnya hitam karena keseringan terpapar matahari — tapi hati anak gunung itu lembut dan hangat. Kalau orang lain menghadiahimu dengan cokelat dan bunga atau boneka lucu, dia akan menghadiahimu foto matahari terbit di Ranu Kumbolo atau malah menuliskan namamu di puncak tertinggi Pulau Jawa. Romantis kan?


13. Dia Paham Makna “Rumah” dan “Pulang”

Dia menghargai orang-orang yang menunggunya di rumah
Dia menghargai orang-orang yang menunggunya di rumah via blogs.itb.ac.id
Seorang pendaki gunung tahu benar arti hangatnya sebuah rumah. Pada pendakian-pendakian panjangnya dia sering duduk, memandang bintang dari dataran setinggi 3000 meter diatas permukaan laut, membayangkan hangatnya rumah yang ditinggalkan. Tidak jarang rasa rindu ingin pulang jadi kekuatan saat langkahnya sudah sempoyongan dihadang trek pasir.
Dia akan menghargai makna “pulang”, “rumah” dan orang-orang yang berada di dalamnya. Beruntunglah kamu jika pada pelukmu lah dia selalu menemukan hangatnya rumah yang jadi sumber semangatnya menuntaskan pendakian.

Setelah membaca alasan diatas, masih ragu untuk menjadikan pendaki gunung sebagai pasangan yang layak mendampingimu?

Jika Suamimu Seorang Pendaki Gunung


Apa yang ada dibenak kalian jika mendengar kata ‘pendaki gunung’? Boleh jadi seorang lelaki dengan carrier besar, celana pdl, sepatu gunung, buff bercorak bunga atau sulur abstrak, windbreaker dan sarung tangan tebal, rambut gondrong yang terkesan kumal, dan kulit gelap khas terbakar matahari.

Aku adalah seseorang yang nantinya berprofesi tak dekat dengan alam. Tapi tak bisa kupungkiri aku memiliki ketertarikan terhadap alam. Ya, aku adalah seorang pendaki gunung. Aku tahu, kesan seorang pendaki gunung identik dengan kesan kotor dan urakan, tapi perlu kau ketahui wahai calon istriku, aku adalah seorang pendaki yang berbeda dengan image pendaki gunung seperti itu. Banyak diluar sana para pendaki yang masih  menjaga etikanya, kerapihannya, serta tata kramanya dan aku termasuk salah satu diantaranya.

Calon istriku, sebagai seorang pendaki tak perlu kau cemas jika kelak aku menghabiskan hari-hariku di alam. Bukan maksudku ingin meninggalkanmu, tapi inilah salah satu caraku untuk mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa. Tidak sehari dua hari aku pergi meninggalkanmu, bahkan mimpiku menaklukan 7 puncak dunia bisa memakan waktu hingga 3 tahun tak bertemu dengan mu. Tak perlu kau khawatir. Aku telah menitipkan diriku dan dirimu pada Tuhan. Aku bertekad pada diri ini untuk kembali bersua dengan mu.

Calon istriku. Bukan berarti aku tak punya tujuan dengan aku pergi mendaki. Justru para pendaki gunung adalah orang yang memiliki tujuan yang mantap dan jelas. Apalagi kalau bukan puncak gunung. Aku tidak memiliki istilah “Mengalir sajalah ikuti arus”. Menjejak di puncak adalah tujuan akhir dari perjalanan panjang nan melelahkan. Jika belum mencapainya, maka aku akan menjadikan ini sebagai hutang yang harus dibayar. Prinsip inilah yang menjadikan tekad ku kuat dalam menggapai puncak-puncak kehidupan.

Calon istriku. Perjalanan ini tak mudah. Perlu proses yang panjang dan kerja keras dalam mencapainya. Tak bisa tetiba aku ada di puncak menikmati mentari terbit dan terbenam yang sungguh elok memesona. Aku harus sabar dan menghargai setiap proses hingga aku dapat menikmati hasilnya. Aku juga belajar menjadi pribadi yang tak mudah menyerah menghadapi medan juang yang begitu berat.

Calon istriku. Jika kau hidup bersama ku, kesabaran dan kesetiaan adalah nilai utama yang aku tanamkan dalam hidup mu. Ya, aku tahu kau khawatir menungguku kembali. Tapi tahukah engkau? Saat aku berada di puncak gunung, aku merasa sangat dekat dengan Tuhan. Tak lupa aku menyelipkan nama mu ketika berdoa di tanah tinggi ini. Aku menitipkan pesan kepada Tuhan bahwa aku telah tiba dan tak perlu engkau khawatir. Jikalau aku telah tiba kembali di titik awal pendakian, aku akan menghubungi mu. Tak peduli selelah apa aku. Yang aku inginkan hanya mendengar suara mu. Mendengar celotehan mu. Mendengar ceritamu selama kutinggalkan. Ah, lelah ku hilang tak berbekas karenanya.

Calon istriku. Maukah kau hidup bersamaku? Ditengah resiko aku meregang nyawa dalam perjalanan? Ditengah resiko aku kehilangan bagian tubuhku ketika mendaki? Maukah kau menungguku dengan setia? Sanggupkah kau sabar menantiku? Hanya satu yang dapat aku berikan. Janji. Ya janji. Peganglah janjiku. Aku pergi untuk kembali.

Tips Berpakaian di Gunung : Layering System!

IMG_8502“Kamu pakai apa sih kalau naik gunung?”
Ehm, saya kadang suka heran melihat orang yang sedang mendaki, tapi setelannya udah kayak mau ke mall.
Nggak salah sih, tapi menurut saya naik gunung – atau backpacking ke alam bebas – adalah salah satu bentuk olahraga. Dan olahraga seharusnya memakai pakaian olahraga, kan? Rasa-rasanya aneh kalau kita main futsal tapi pakai kemeja flanel dan jeans.
Memang terlihat nggak aneh sih, justru keren. Tapi saya jamin, yang pakai pakaian keren seperti itu pasti nggak nyaman sama sekali.
Saya menganut layering system dalam berpakaian ketika melakukan kegiatan pendakian. Sistem pelapisan pakaian ini memungkinkan kita untuk mengatur temperatur tubuh kita dengan menyesuaikan lapisan yang dikenakan.
Jadi, kita nggak perlu bawa jaket-jaket tebal yang terlalu besar macam mau ke kutub utara gitu…
Ada tiga lapis yang perlu kita ketahui. Lapisan pertama (base layer) yang langsung menyentuh kulit untuk mengatur kelembaban; lapisan kedua (insulating layer) untuk melindungi dingin dan memberi kehangatan #eaaa; dan lapisan terakhir (shell layer) adalah melindungi kita dari cuaca alam bebas.
Mari kita lihat satu-satu yuk kaka ~

1. Base Layer : Pengatur Kelembaban

Rei power drybase layer
Contoh base layer bahan polyster. Tipis, ringan, dan mudah kering.
Lapisan pertama ini tujuannya tak hanya untuk menyerap keringat, tetapi juga membuatnya menguap ke lapisan berikutnya. Makanya saya tak menyarakan memakai bahan katun karena hanya akan menyerap keringat, tapi tak bisa menguapkannya.
Keringat di baju nggak menguap = lepek lepek basah dan bau nggak sedap mirip sambel oncom basi. Been there dan nggak mau lagi hihi.
Lebih lagi, bahun katun bisa meningkatkan resiko hipotermia. Saya pernah memakai katun sebagai base layer dibawah jas hujan. Padahal air sama sekali tak tembus, tetapi karena berkeringat dan tak menguap, saya pun merasa kedinginan.
Untuk base layer ini, lebih baik memakai bahan seperti wol atau sintetis seperti polyster. Karena bahan-bahan ini tak hanya menyerap keringat, tapi juga mentransfernya ke lapisan luar baju.
Hasilnya : badan kita lebih kering saat berkeringat, dan baju juga akan cepat kering setelah itu. Dan yang paling penting : NGGAK BAU :))
Memakai kaos olahraga seperti mas ganteng @budhi_setyawan ini juga boleh, asal bahannya yang polyster.
Memakai kaos olahraga seperti mas ganteng @budhi_setyawan ini juga boleh, asal bahannya yang polyster.

2. Insulating Layer

Fleece klasik. TNF polartec
Fleece klasik. TNF polartec
Insulating layer ini fungsinya buat “menjebak” udara panas di dekat tubuh sehingga kita akan tetap hangat. Untuk lapisan ini, saya menyukai bahan serat alami seperti sweater berbahan bulu angsa (down).
Bahannya sangat ringan dan kecil saat dipacking. Tapi hanya bisa dipakai saat keadaan kering. Tapi belum lama saya melihat websitenya the north face ada teknologi bernama thermoball, bahan yang menyerupai down tetapi bisa tetap digunakan walaupun basah.
Bahan selain down yang populer ada fleece,  di Indonesia umumnya disebut sebagai bahan ‘polar’. Polar ini sebetulnya adalah salah satu teknologi per-fleece-an. Tapi biasa, orang Indonesia suka menyebut brand sebagai nama benda tersebut.
Fleece juga ringan, menahan panas dengan baik, tetapi agak besar saat dipacking karena bahannya yang cenderung tebal. Jaket fleece biasanya jauh lebih murah daripada down.
Untuk musim dingin, tinggal mengganti lapisan kedua ini dengan bahan down atau fleece yang lebih tebal. Biasanya ada level-nya kok mild, chill, cold; macam keripik maicih.
My friend @lucianancy in Ladakh with a down sweater. From her instagram.
My friend @lucianancy in Ladakh with a down sweater. From her instagram.
Contoh jaket fleece merk lokal consina. Gak usah liat muka modelnya.
Contoh jaket fleece merk lokal consina. Gak usah liat muka modelnya @cak_ridwan

3. Shell Layer

Shell jacket
Shell jacket
Lapisan terakhir ini sangat penting untuk cuaca di gunung yang tak bisa ditebak. Lapisan ini penting, karena mencegah air masih ke dua lapisan bawah. Jika air sudah masuk, maka hancur sudah fungsi layering ini.
Shell dapat berupa jaket windproof (anti-angin) biasa hingga jaket windproof-waterproof-breathable dengan teknologi macam-macam yang harganya bisa buat beli sepeda motor bekas.
Saat membeli jakcet shell, pastikan ukurannya pas saat kita memakai dua lapisan di bawahnya.
Lebih baik gunakan shell yang beritpe windproof/Waterproof/breathable : Ini tipe yang paling saya sarankan. Teknologi seperti Gore-Tex masuk dalam kategori ini. Tipe ini menahan air, menahan angin, tetapi tetap bisa membuang uap keluar. Jadi saat memakainya di tengah terik matahari pun tak akan terlalu gerah.
Ada juga tipe yang lebih murah seperti hanya windproof, atau windproof/waterproof. Tapi untuk kegiatan alam bebas yang tentunya tingkat pergerakannya tinggi, saya menyarankan tipe yang breathable agar lebih nyaman. Lebih mahal sih memang, tapi gak akan menyesal saat kamu pakai di gunung.
That's me with 3 layer and outer shell jacket.
That’s @wiranurmansyah with 3 layer and outer shell jacket.

4. Lapisan Tambahan – your style layer.

Ini adalah lapisan yang bisa kita bawa buat narsis. Tapi jangan dipakai pas jalan ya, pas foto-foto aja. Have fun! :))
Teman saya mas erik yang rela ganti baju batik saat di hampir di puncak Rinjani hanya demi foto...
Teman saya mas erik yang rela ganti baju batik saat di hampir di puncak Rinjani hanya demi foto…
Teman saya si kaka @premous yang rela bawa baju toga ke atas puncak gunung Slamet...Cek blog nya di premous.blogspot.com
Teman saya yang cantik tapi ganteng @premous yang rela bawa baju toga ke atas puncak gunung Slamet. *applause* Cek blog nya disini
Untuk bawahan, sebetulnya sama saja seperti lapis pertama baju. Yang penting bahan yang cepat kering, dan kalau bisa sekalian waterproof & breathable, sehingga gak perlu repot-repot bawa ponco segala.
JANGAN PAKE JEANS YA! :)

5 Dosa Para Pendaki Gunung yang harus dihindari

Postingan ini untuk memperingati hari lingkungan hidup sedunia yang jatuh pada tanggal 5 juni. Manusia punah, alam pun tak akan apa-apa. Jika alam rusak, maka manusialah yang akan bermasalah. Yuk sayangi alam kita!
ADA sebuah anggapan bahwa mendaki gunung itu adalah sebuah tindakan yang keren dan gagah. Ada rasa bangga ketika sudah menginjakan kaki di puncaknya. Namun, sadarkah kita bahwa kita yang mengaku pecinta, ataupun penikmat alam, bisa jadi adalah seorang perusak alam?

1. Melakukan kegiatan pendakian massal (non-konservatif)

Mungkin kita sudah tahu tentang sebuah brand perlengkapan outdoor yang melakukan pendakian massal ke gunung Semeru beberapa waktu lalu.
Saya sempat diajak teman karena dalam iklannya pendakian ini dibumbui oleh kata-kata bersih-bersih gunung, tanam pohon, dan konservasi. Kenyataannya? Semeru menjadi tempat sampah dan potensi rusaknya ekosistem makin besar.
Sebelum mengikuti pendakian massal, ada baiknya survey terlebih dahulu. Berapa kapasitas gunung tersebut, berapa jumlah pendaki yang dibolehkan ikut oleh panitia, dan hal yang terkait dengan konservasi lainnya. Jadilah pendaki yang bertanggung jawab, sob!

2. Andil besar mencemari lingkungan

Biarkan mereka tetap pada tempatnya
Biarkan mereka tetap pada tempatnya
Saya pernah naik gunung dengan seorang rekan yang kelihatannya sudah ‘senior’ dalam hal mendaki. Namun, ditengah perjalanan istirahat, saat ia memakan sebuah makanan ringan, dengan ringannya pula ia membuang sampah itu sembarangan.
Itulah potret kebanyakan pendaki yang tidak paham akan konservasi. Apa sulitnya sih membawa sampah di dalam tas?
Di lain waktu, saat saya sedang ingin mengambil air di sebuah mata air, terlihat seorang pendaki yang sedang menikmati ritual B*B di mata air itu! Apa dia tidak berfikir orang akan minum dari sana? Sebegitu sulitkah menggali lubang di tanah? Kucing saja masih bisa lebih pintar!
Banyak juga pendaki-pendaki yang masih saja menggunakan bahan-bahan kimia yang bisa merusak. Jangan heran kalau menemukan bungkus sabun/shampo yang tergeletak dekat di mata air.

3. Bersikap acuh tak acuh dan pasif.

Menganggap tugas konservasi itu adalah tugasnya penjaga Taman Nasional, porter, dan LSM lingkungan adalah bukan hal yang benar.
Padahal pendaki sendirilah yang punya bagian besar dalam menjaga lingkungan. Banyak oknum pendaki juga tidak mengindahkan kearifan lokal yang telah ditetapkan masyarakat setempat. Tertulis ataupun tidak tertulis.
Seringkali mitos-mitos mistis di gunung itu sebetulnya adalah usaha untuk konservasi dari masyarakat. Jangan sampai bilang begini, ” Saya bukan pecinta alam, kok. Cuma penikmat alam. Jadi bukan tugas saya dong untuk konservasi?”
Heran dengan orang yang bangga dengan menuliskan jejaknya di bebatuan ini.
Heran dengan orang yang bangga dengan menuliskan jejaknya di bebatuan ini.

4. Merusak keasrian gunung

Tidak sulit menemui corat-coret vandalisme di bebatuan, batang pohon, bahkan pos pendakian. Mengambil flora & fauna langka seperti bunga edelweiss, bertindak sembrono sehingga mengakibatkan kebakaran hutan. Puntung rokok dan bekas api unggun yang masih menyala, membuka jalur yang tidak seharusnya, membuang tissue basah kotor seenaknya dan masih banyak lagi.

5. Tidak membagikan pengetahuan tentang pendakian konservatif

Tak dipungkiri, mendaki gunung sekarang sudah terkesan menjadi sebuah ‘wisata’.
Apalagi banyak pengaruh dari acara televisi, film, blog, forum dan banyak media lainnya. Membagikan semangat mendaki gunung kepada orang-orang baru tanpa dibarengi semangat konservasi hanya akan menjadikan para pendaki tersebut menjadi generasi pendaki yang cenderung antipati terhadap lingkungan dan hanya mementingkan kesenangan semata.
Sebagian dari kita mungkin pernah melakukan hal atas, secara sengaja maupun tidak sengaja. Yang pernah, tolong jangan diulangi lagi dan mari saling mengingatkan kepada rekan pendaki yang lain. Semoga gunung-gunung Indonesia masih bisa dinikmati anak-cucu kita nantinya. Aammiinn!
Salam lestari!
Ingatlah bahwa masih ada anak cucu kita.
Ingatlah bahwa masih ada anak cucu kita.

Kamis, 05 Februari 2015

Kode Etik Pecinta Alam

MANAJEMEN PERJALANAN

MANAJEMEN PERJALANAN


Beberapa hal yang menjadi dasar dalam perencanaan perjalanan.
Untuk merencanakan suatu Perjalanan ke Alam Bebas Harus ada persiapan dan penyusunan yang matang. ada rumusan yang umum digunakan yaitu 4W & 1 H, adalah Where, Who, Why, When dan How.

1. Kenalilah setiap bagian dari wilayah serta medan yang akan kita lalui. Panjang dari route dan bagian-bagian dari route tersebut, bagaimana keadaan umumnya, apakah terdiri dari medan yang berbatu, rawa-rawa, semak belukar, hutan rimba belantara atau padang rumput, dll. Kenali pula keadaan iklimnya, temperatur siang hari dan malan hari, angin, hujan, senantiasa berkabut, atau salju dll.
(Where/Diamana)

2. Perhatikan maksud dan tujuan perjalanan anda.
apa program program kegiatan anda secara umum dan macam kegiatan apa saja yang akan anda lakukan pada setiap bagian dari route perjalanan anda.
Apa yang anda Lakukan ? (Whay/Mengapa)

3. Perhatikan lamanya waktu dari perjalanan anda, juga waktu untuk setiap bagian dari route perjalanan.
Berapa lama ? (When/Kapan)

4. Kadang-kadang ada hal-hal khusus yang dibutuhkan oleh orang-orang yang tertentu,
(Who/Siapa)

5. Keterbatasan dari kita untuk membawa barang-barang serta perlengkapan tadi sebagai beban.
Cara Menyelesaikan masalah. (How/Bagaimana )



Dari hal-hal diatas kita dapat mebuat perhitungan-perhitungan, perencanaan untuk membawa, memilih atau bahkan mendesain perlengkapan apa saja yang perlu dipakai dan dibawa sehingga tujuan-tujuan terlaksanan dengan baik. Perlengkapan untuk suatu perjalanan harus selengkap mungkin tetapi juga harus praktis dan seringan mungkin” maximum utility in minimum weight”. Berat badan total sebaiknya tidak melebihi sepertiga berat badan kita, maksimal 15-20 kg. Dan yang perlu pula diperhatikan pertambahan berat beban akibat basah seandainya hujan dsb.


Kegiatan dalam suatu perjalanan

Hal yang umum kita lakukan dalam suatu pengembaraan secara garis besar kita bagi dalam :
Pergerakan atau perpindahan dari suatu titik ke titik lain baik dengan jalan kaki biasa, atau memelukan teknik-teknik yang lebih khusus seperti : pendakian tebing terjal, pendakian tebing es, perjalanan padang salju, ski dan lain-lain.
Kegiatan istirahat temasuk tidur dan lain-lain. Dengan maksud untuk memelihara kondisi tubuh baik fisik maupun mental.
Kegiatan makan dan minum.
Kegiatan kerja khusus (kalau ada), seperti penelitian geologi, pengukuran geodesi, pengumpulan data biologi hutan, dll.
kegiatan harian dasar seperti buang air besar, membersihkan badan dll.
Check list

Perlengkapan untuk perjalanan dialam terbuka memerlukan pemikiran dan perhatian yang sungguh-sungguh. Ban
yak kesenangan dan kemudahan yang kita peroleh apabila kita menggunakan dan membawa perlengkapan yang tepat. Dan bayak pula kesulitan bahkan bencana bila kita tidak membuat perencanaan yang baik untuk hal ini. Sekali lagi yang terpenting adalah ketelitian serta kemampuan untuk melihat kedepan. Bahkan mengenai makanan tidak hanya gizi dan kalorinya yang harus dipikirkan tapi pengaruhnya pada moril perjalanan. Sampai-sampai harus direncanakan pula daftar serta jadwal dari makanan (menu) dari hari-kehari bila memungkinkan.

Bila perjalanan dalam kelompok, setiap pemimpin kelompok harus memeriksa apakah setiap anggotanya sudah menyiapkan perlengkapan pribadinya masing-masing. Kita harus dapat membagi antara perlengkapan perorangan dengan perlengkapan tim. Harus diperhatikan agar beban yang dibawa setiap orang tidak mewebihi dari batas maksimum.teliti secara terperinci jangan sampai hal-hal yang benar-benar diperlukan tidak terbawa dan jangan sampai juga membawa barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

Contoh:

Perlengkapan jalan (Dapat kita perinci satu persatu mulai dari kaki hingga kepala)

  Sepatu:

Ada banyak macam dan bentuk sepatu, masing-masing mempunyai keistimewaan dan kegunaan tertentu. Bagi kita yang terutama harus diperhatikan adalah syarat-syarat sebagai berikut :

a. mempunyai daya guna yang sesuai dengan maksud atau bentuk perjalanan/track dari route yang dilalui.

b. Sesuai dengan bentuk dan ukuran kaki.

c. Harus sejauh mungkin menguntungkan si pemakai.

d. Harus kuat untuk pemakaian di medan yang berat.

Tips agar sepatu tetap awet selama kegiatan perjalanan :

- jangan sekali-kali mengeringkan sepatu anda pada panas yang ekstrim, misalnya terlalu dekat dengan api unggun, tungku, lampu, juga pada sinar matahari yang terik.

- Walaupun sambil dipakai bersihkan sepatu anda dari Lumpur atau kotoran lain yang melekat dengan kaian basah atau semer sepatu.

- Semirlah sepatu anda sewaktu-waktu atau oleslah dengan lemak atau “grease” agar kulitnya tetap lembut dan tidak cepat lapuk.

- Bersihkanlah kaos kaki, sepatu dan perlengkapan sepatu setiap ada kesempatan.

Ka
os kaki

Berbicara masala
h sepatu, kurang lengkap kalau tidak membicarakan juga kaos kaki. Kaos kaki dimaksudkan :

a. melindungi kulit kaki dari pergesekan langsung dengan kulit sepatu atau bagian-bagian sepatu yang menimbulkan luka-luka/lecet.

b. Menjaga agar telapak kaki tetap dapat bernafas

c. Men
yerap keringat

d. Menjaga agar kaki tetap hangat pada daerah-daerah yang sangat dingin.


 Geiter/putis/atau lainnya

Geiters/sarung anti pacet biasanya dibuat dari kain tipis yang dipakai setelah kaus kaki setinggi lututyang sebelah atas atau ujung bertali seperti sarung bantal atau sarung guling, manfaatnya sama dengan putis.
(bisa juga menggunakan daun tembako pada rokok. Di gosokan di kaki)

Putis terbuat dari kain katun atau wool untuk menjaga otot-otot betis agar tetap fit pada perjalanan panjang. Juga untuk mencegah pasir, pacet masuk kedalam sepatu atau kaus kaki. Pemakaiannya tidak boleh terlalu ketat sehingga mengganggu peredaran darah atau pergerakan otot betis.

Celana Jalan/lapangan

Syarat utama celana jalan adalah : kuat, ringan, tidak mengganggu gerakan kaki, praktis dan terbuat dari bahan yang menyerap keringat. Untuk daeah tropis bahan driil yang mengandung katun/cotton tidak terlalu tebal, tahan duri dan tidak membuat “overheat”. Selain itu cukup ringan dan cepat kering (example : PDL Militer atau celana loreng tentara)

 Ikat pinggang

Pilihlah ikat pinggang yang terbuat dari bahan yang kuat,misalnya dari kulit yang tebal tetapi lembut atau dari bahan sintetis lainnya (ring eiger)

 Baju jalan/lapangan

Baju lengan panjang lebih efektif untuk menahan goresan-goresan duri, untuk menjaga temperatur tubuh, melindungi tangan dari sengatan serangga berbisa atau nyamuk.

 Jaket/ baju luar/ sweater
/Rain Coat
Dapat menghangatkan badan dan baju dalam tidak basah apabila terjadi hujan pada saat melakukan perjalanan jauh.

 Scarf, kacu segitiga lebar

Dapat digunakan sebagai pembalit luka, menghapus keringat, tutup kepala
, menyaring air.

Pelindung kepala (topi, helmet atau kupluk)

Perlengkapan ini melindungi dan memberikan kehangatan di bagian kepala, pemakaiannya disesuaikan dengan medan yang akan dilalui.

 Jas hujan/ponco
Agar terlindung dari hujan dan barang bawaan tidak basah terkena hujan (sama fungsinya seperti Raincoat)


Perlengkapan Tidur.
:

Satu set pakaian tidur

 Kaus kaki untuk tidur

 Sleeping Back/Sleeping mat/Selimut/Kelambu

 Penutup kepala

 Tenda/tenda gantung

 Sarung tangan
(Sarung tangan dari kulit kuat tetapi lembut baik untuk dipakai didaerah-daerah tropis yang banyak semak-semak berduri, untuk daerah dingin sarung tangan digunakan untuk menahan dingin pada bagian tangan juga untuk rapelling dan lain-lain keperluan.)


Perlengkapan masak/makan
:

 Alat masak lapangan lengkap

 Alat makan

 Alat pembuat api (kompor gas, spiritus, paravin, lilin, dll)

 Kantung air/alat pemurni air, dll.

Alat Bantu perlengkapan jalan
:

 Peta

 Kompas

Kompas adalah partner anda yang sangat penting dalam perjalanan atau pengembaraan, harus baik kuat dan praktis. Letakkan kopas pada tempat yang aman tetapi mudah dijangkau sewaktu-waktu diperlukan.

Ø Pisau pinggang,pisau saku serba guna (Multi Blade)dan golok tebas

Spesifikasi pisau dan golok lapangan :

a. terbuat dari bahan yang dapat dipercaya, tajam dan tidak mudah patah.

b. Desain dan ukurannya harus benar-benar enak dipegang dan enak dipakai.

c. Sarungnya aman dan enak jatuhnya.

d. Selalu tetap terpelihara.

Merk pisau PUMA, GERBER, HANTER,dan golok BUSH HAWKER, BOLO, MACHETE masuk spesifikasi golok lapangan.

Ø Jam tangan

Ø Water canteen

Ø P3K + Snack Bite Kit

Ø Sarung tangan

Ø Flash light + baterai dan lampu cadangan
(senter)

Ø Pluit

Perlengkapan pribadi lainnya

Ø Jarum benang

Ø Kancing

Ø Tali sepatu cadangan, semir dan sikat sepatu

Semir sepatu dimaksudkan untuk menjaga agar kulit sepatu tetap lembut dan tidak patah atau retak-retak. Juga untuk menjaga agar benang jahitan sepatu tetap kuat. Sebagai pengganti semir dapat menggunakan campuran bawang merah dengan minyak kelapa untuk menjaga dan memelihara sepatu dan kulitnya (kulit kaki). Campuran ini dikenal dengan nama minyak komando.

Ø Handuk, sikat gigi, sabun, celan
a lapangan.

Ø Surat-surat perjalanan, surat cinta, banko surat wasiat, dll.

Ø Alat tulis menulis, alat dokumentasi.


Ransel

Ransel ini sangat penting dalam kegiatan alam terbuka beberapa hal yang harus dipenuhi adalah:

- Ringan: Ransel sejauh mungkin tidak merupakan bahan bobot yang berlebihan terbuiat dari bahan yang “water Proof” sehingga kalau hujan tidak bertambah berat dan cukup melindungi isi dari ransel walaupun tetap harus diberi perlidungan ekstra dengan jalan menggunakan kantong-kantong plastik untuk mrlindungi perlengkapan yang peka seperti pakaian tidur, alat tulis, makanan ringan dan lain-lain.

- Kuat: Harus mampu membawa beban kita dengan aman, berdaya tahan tinggi, tidak mudah robek, jahitannya tidak mudah lepas sipernya cukup kokoh dan seterusnya.

- Sesuai denagn kebutuhan dan keadaan medan:

o Volumenya harus memadai untuk beban/perlengkapan yang kita bawa

o Disainnya harus sejauh mungkin sesuai dengan keadaan medan yang akan kita tempuh, jangan sampai komponen ransel mengganggu kebebasan gerak sipembawa pada medan-medan tertentu.

- Compfortable (nyaman dipakai):,Misalnya untuk ransel Carriel atu pembawa barang besar dan berat mungkin “Frame” perlu agar berat beban merata keseluruh keseimbangan tubuh. Frame ini juga membuat nyaman karena adanya fentilasi antara punggung dengan ransel. Bagi ransel yang tidak mengguinakan frame atau yang frame didalam (internal frame), mungkin perlu ditambahkan bahan yang menyeraaap keringan dibagian yang bersetuhan dengan punggung. Tali pentyangdang ransel harus cukup lebar dan empuk serta mudah distell, juga hip belt untuk mengatur agar rangsel menempel dengan baik ketubuh sertta membantu pembagian berat keseimbangan.

- Praktis: Kantung-kantung tambahan atau pembagian ruangnnya memudahkan kita mengambil barang-barang tertentu, mudah dilepas.


Mengusun perlengkapan kedalam carrier

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengepakan atau packing perlengkapan ke dalam carrier :

Ø Tempatkanlah barang-barang yang lebih berat setinggi dan sedekat mungkin ke badan anda. Barang-barang yang lebih ringan seperti pakaian tidur, makanan kering, sleeping bag dan seterusnya tempatkan pada bagian bawah.

Ø Letakkanlag barang-barang kecil yang diperlukan sewaktu-waktu pada kantung-kantung luar ransel anda atau pada bagian yang paling atas. Yakinkanlah bahwa perlengkapan PPPK,makanan untuk sarapan, ponco dan sebagainya terletak pada bagian yang mudah untuk segera diambil.

Ø Kelompokkanlah barang-barang anda dan masukkan ke dalam plastik/kantung yang tidak tembus air dan kuat.

Untuk kegiatan kelompok/tim perlu ada pembagian tugas untuk membagi-bagi perlengkapan agar berat beban yang dibawa oleh setiap anggota tim terbagi rata.



manajemen perjalanan, essays manajemen perjalanan, manajemen perjalanan, manajemen perjalanan, manajemen perjalanan paper, manajemen perjalanan case, manajemen perjalanan tours.
Packing

Sebelum melakukan pendakian kita biasanya menentukan dahulu peralatan dan perlengkapan yang akan dibawa, jika telah siap semua inilah saatnya mempacking barang-barang tersebut ke dalam Carier atau backpack. Packing yang baik menjadikan perjalanan anda nyaman karena ringkas dan tidak menyulitkan.
Prinsip dasar yang mutlak dalam mempacking adalah :
  • Pada saat backpack dipakai beban terberat harus jatuh ke pundak, Mengapa beban harus jatuh kepundak, ini disebabkan dalam melakukan pendakian kedua kaki kita harus dalam keadaan bebas bergerak, bayangkan jika salah mempacking barang dan beban terberat jatuh kepinggul akibatnya adalah kaki tidak dapat bebas bergerak, dan anda menjadi cepat lelah karena beban backpack anda menekan pinggul belakang.
  • Ingat : Letakkan barang yang berat pada bagian teratas dan terdekat dengan punggung.
  • Membagi berat beban secara seimbang antara bagian kanan dan kiri pundak Tujuannya adalah agar tidak menyiksa salah satu bagian pundak dan memudahkan anda menjaga keseimbangan dalam menghadapi jalur berbahaya yang membutuhkan keseimbangan seperti : meniti jembatan dari sebatang pohon, berjalan dibibir jurang, dan keadaan lainnya.
  • Pertimbangan lainnya adalah sebagai berikut :
  • Kelompokkan barang sesuai kegunaannya lalu tempatkan dalam satu kantung untuk mempermudah pengorganisasiannya. Misal : alat mandi ditaruh dalam satu kantung plastik.
Maksimalkan tempat yang ada, misalkan Nesting (Panci Serbaguna) jangan dibiarkan kosong bagian dalamnya saat dimasukkan ke dalam ransel, isikan bahan makanan kedalamnya, misal : beras dan telur.
• Tempatkan barang yang sering digunakan pada tempat yang mudah dicapai pada saat diperlukan, misalnya: rain coat / jas hujan pada kantong samping Keril/Ransel.
• Hindarkan menggantungkan barang-barang diluar ransel, karena menggantungkan barang diluar ransel akan mengganggu perjalanan anda karena tersangkut-sangkut dan berkesan berantakan, usahakan semuanya dapat dipacking ke dalam ransel.
Mengenai berat maksimal yang dapat diangkat oleh anda, sebenarnya adalah suatu angka yang relatif,
patokan umum idealnya adalah 1/3 dari berat badan anda , tetapi ini kembali lagi ke kemampuan fisik setiap individu, yang terbaik adalah dengan tidak memaksakan diri, lagi pula anda dapat menyiasati pemilihan barang yang akan dibawa dengan selalu memilih barang/alat yang berfungsi ganda dengan bobot yang ringan dan hanya membawa barang yang benar-benar perlu.